hos_hermanto@yahoo.com

hos_hermanto@yahoo.com

Rabu, 18 Januari 2012

MENJAWAB TENTANG MOZART EFFECT

MENJAWAB KOMENTAR TENTANG MOZART EFFECT

ass wr wbr

1. Yang ditemukan dan diusulkan untuk mencerdaskan janin sejak dalam kandungan adalah "Kombinasi Stimulasi dan Nutrisi" bukan musik saja atau nutrisi saja, selalu kombinasi. SEHINGGA YANG DITEMUKAN BUKAN TERMASUK EFEK MOZART. Efek Mozart yang dibahas di media (internet dll) dilakukan terhadap anak-anak dan orang dewasa (pelajar dan mahasiswa).

2. Stimulasi: 11-14 lagu karya Mozart - bukan semua lagu karya Mozart bisa diberikan malahan K626 Requim merupakan lagu kematian dan dengan urutan tertentu berdasar hasil penelitian bukan berdasar preferensi

3. Nutrisi: 5 sehat 5 sempurna ditambah DHA, bukan hanya DHA saja

4. Penelitian ini dilakukan terhadap JANIN(Mencit, tikus, domba dan manusia) DALAM RAHIM, BUKAN setelah lahir, bukan untuk BAYI, BUKAN untuk ANAK-ANAK, DAN BUKAN ORANG DEWASA

5. Yang ditemukan adalah Kombinasi S dan N saat hamil tsb menghasilkan

* jumlah sel neuron sel otak Rattus novergicus baru lahir

* jumlah sel neuron terbanyak dihasilkan musik karya Mozart dibanding gamelan dan ndangdut

* jumlah sel yang mengalami kematian sel neuron terprogram(apoptosis) berkurang

* indeks apoptosis sel neuron otak mencit baru lahir yang lebih rendah

* menghasilkan kadar BDNF tali pusat bayi baru lahir yang lebih tinggi

6. Yang kita bicarakan adalah kecerdasan yang tentunya berada dalam otak- satu organ yang paling rumit di jagad raya sehingga kontroversinya sangatlah besar. Pengertian kecerdasan yang dipakai sebagai di penelitian di sini adalah dari Howard Gardner - yaitu potensi biopsikososial untuk menyelesaikan masalah atau menciptkan karya baru yang bisa dibangkitkan pada satu latar budaya tertentu dan berhubungan dengan otak

hubungan dengan otak kami sederhanakan sebagai:

jumlah sel neuron terutama piramidalis

semakin banyak semakin cerdas

jumlah rasio glia / neuron

semakin tinggi semakin cerdas

kualitas sinaps

semakin baik semakin cerdas

bagaimana mendefinisikan cerdas secara klinis atau pskilogis:

untuk janin jelas tidak memungkinkan

untuk bayi baru lahir juga sangat sulit

untuk bayi sampai usia 1 tahun - ada parameter tumbuh kembang tertentu

untuk bayi 1 - tahun

untuk anak=anak - sesuai Irene Nulman

bukan bisa nyanyi lagu, atau bisa naik sepeda seperti yang didefisikan orangtuanya

Apalagi di tingkat orang awam yang kurang memahami kaidah-kaidah ilmiah. Sehingga dalam tulisan-tulisan di internet sampai ada kata-kata "Bohong, tidak benar" dsb. Dalam menelorkan satu temuan baru yang berbasis penelitian yang disimpulkan biasanya adalah - sesuai terminologi evidence based medicine yaitu klas I sampai V - klas 1 - dan rekomendasinya berbunyi : belum cukup bukti yang menolak atau mendukung kesimpulan ini

Penelitian yang sedang dan telah dilakukan baru mencapai jumlah subyek penelitian terbatas - namun diupayakan memenuhi kaidah-kaidah peneltian yang baik yaitu

ada randomisasi

ada kelompok kontrol

ada blinding

Mudah-mudahan bisa lebih memperjelas ruh, posisi penelitian dan temuan ini. Amin

Surabaya 17 januari 2012

Wass

Hermanto TJ

Senin, 19 Desember 2011

Pesan Akhir Tahun


Dear all,

Ass wr wb

Bulan Desember ini nampaknya kegiatan slowdown, mudah-mudahan di tahun mendatang konsep-konsep yang kami usulkan lebih diterima oleh berbagai pihak.

Konsep-konsep yang kami ajukan adalah:

  1. kehadiran manusia di muka bumi adalah menjadi khalifah, sehingga harus sehat dan cerdas - kehamilan adalah periode platinum untuk menyiapkan calon khalifah ini
  2. calon khalifah ini sebetulnya memang bukan bagian dari ibu tetapi individu tersendiri yang dengan sendirinya mempunyai hak yang harus dihormati. Kombinasi stimulasi dan nutrisi selama hamil adalah salah satu pemenuhan hak janin
  3. kecerdasan - potensi biopsikososial, dibentuk sejak dalam rahim karena proses pertambahan sel neuron, pembentukan sinaps dan kematian sel terprogram terjadi sejak dalam rahim
  4. pengkayaan lingkungan yang sampai saati ini terbukti optimum adalah kombinasi stimulasi (11-14 lagu Mozart) dan nutrisi yang seimbang termasuk DHA
  5. mudah-mudahan pembaca ada yang tertarik untuk ikut meneliti karena masih dibutuhkan banyak penelitian di ranah ini


Surabaya, 20 Desember 2011

Hermanto TJ

Minggu, 07 Agustus 2011

Highlight Seminar Yang diadakan Dr.Hermanto,SpOG

Senin, 8 Agustus 2011

Pertama-tama saya ucapkan selamat berpuasa untuk semuanya.
Dari berbagai seminar yang saya sebagai pembicaranya. Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:
  1. Periode tumbuh kembang dalam rahim merupakan salah satu periode yang sangat penting sehingga kami memberi nama periode Platinum.
  2. Janin merupakan individu yang terpisah dari ibunya sehingga mempunyai hak yang dihormati dan dipenuhi
  3. Kombinasi stimulasi dan nutrisi merupakan upaya untuk lingkungan sejak dalam kandungan
Stimulasi dengan menggunakan ayat Al-Quran masih belum saya teliti.
Mudah-mudahan saya bisa lebih sering mengisi blog ini.


Warm wishes

Hermanto

Selasa, 12 April 2011

PENELITIAN PENGUNGKIT OTAK JANIN SELAMA HAMIL DALAM KEMUDAHAN, PENERIMAAN DAN KEPATUHAN

Dr dr Hermanto TJ Sp OGK bekerjasama dengan P3 IK Jakarta, Din Kes Kodya Surabaya,

Puskesmas Medokan Ayu, Puskesmas Balong Sari

ABSTRAK PENELITIAN

Kombinasi stimulasi dengan urutan komposisi karya Mozart dan Nutrisi termasuk DHA masih belum merupakan standar dalam asuhan antenatal bumil di Indonesia maupun belahan dunia lain. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kombinasi ini menghasilkan parameter potensi kecerdasan yaitu peningkatan jumlah sel neuron, menurunnya sel yang mengalami apoptosis, menurunnya indeks apoptosis dan meningkatnya BDNF(brain derived neurotrophic factor) secara bermakna. Namun dalam praktek sehari-hari, paparan stimulasi membutuhkan perangkat player dan headphone yang mungkin perlu penyesuaian dan penerimaan ibu. Disamping itu, ukuran serta bau tablet yang mengandung DHA itu bisa mengganggu bumil. Untuk itu dirancang penelitian untuk menilai seberapa jauh PO dapat digunakan.

Tujuan: menganalisis kemudahan, penerimaan, dan ketaatan pemakaian player dan tablet DHA pada ibu hamil mulai minggu ke 20

Metode: Prospektif, analitik. Subyek penelitian: 20 bumil dari Puskesmas Medokan Ayu dan Puskesmas Balongsari yang bersedia mengikuti penelitian. Bumil dan bidan diberi pengarahan mengenai cara menggunakan player dan headset (5 M dan 1 U) serta diberikan tablet mutivitamin yang juga mengandung DHA. Diberikan formulir pemantauan untuk beberapa bidan di kedua Puskesmas dan bumil diikuti sampai terjadi persalinan. Data ditabulasi dan dianalisis

Hasil: didapatkan rata-rata usia ibu hamil 28 tahun, usia kehamilan dimulai dari 20 minggu, melahirkan di usia kehamilan 36 minggu. Dari 20 ibu 1 bayi meninggal usia kehamilan 24 minggu dan 1 lost of follow up

Kusieoner:

  • Kemudahan : Presentase kemudahan ibu hamil dalam menggunakan pemutar MP3 dan Headsetnya dan tidak mengganggu aktivitas sebesar 55% dan 66%, penggunaan pemutar MP3 dan Headsetnya ukurannya pas dan tidak mudah lepas presentasenya sebesar 60% dan 58%. 87% bumil menggunaan pemutar MP3 dan Headsetnya tiap hari selama 60 menit dan 68% bumil menggunakannya tiap malam hari, serta 76% bumil menggunakan pemutar MP3 dan Headsetnya mulai usia kandungan 5 bulan.
  • Penerimaan : 58% bumil dapat menerima 11 lagu komposisi Mozart meskipun orang Indonesia, 58% bumil percaya bahwa stimulasi dengan Mozart ini tidak berbahaya dan 63% bumil percaya bahwa 11 lagu komposisi Mozart dapat mencerdaskan bayinya. Presentase 63% bumil tidak setuju bahwa tablet suplemen Brain Booster tidak terlalu besar dan 84% bumil tidak setuju bahwa tablet suplemen Brain Booster tidak berbau. 74% bumil percaya tablet suplemen Brain Booster tidak berbahaya dan 71% bumil percaya bahwa dapat mencerdaskan bayinya.
  • Ketaatan : Frekwensi dalam seminggu bumil memberikan stimulasi sebesar 65% sedangkan untuk nutrisi 59%. Presentase pemberian stimulasi dalam durasi 60 menit tiap malam selama seminggu sebesar 59% dan dengan menempel dalam 60 menit sebesar 56%.

Kesimpulan: Pada penelitian ini kemudahan, penerimaan, dan ketaatan cukup baik kecuali untuk ukuran dan bau tablet

Kata kunci: Pengungkit otak, Kemudahan, Kepatuhan dan Penerimaan

Selasa, 20 April 2010

TS yang terhormat,

Pada dasarnya saya gaptek, yang membuat dan ngisikan blog, email sekretaris saya. Jadi untuk facebook n BB yang rasanya lebih intens saya nggak bisa- mhn lewat sms ato email. Mohon maaf juga saya baru buka komentar dan permintaan dari beberapa teman mengenai urutan lagu Mozart. Samapi minggu ke 36 diperlukan 11 komposisi Mozart dan sampai lahir diperlukan 14 komposisi Mozart. Hal ini penting, karena proses apoptosis(kematian sel terprogram) neuron (utamanya neuron piramidalis) meningkat di minggu-minggu terakhir kehamilan sehingga diperlukan lebih banyak lagu. Tentunya urutan lagu ini harus dikombinasi dengan nutrisi yang baik terutama DHA- kata kuncinya adalah kombinasi stimulasi(Mozart) dan nutrisi(DHA).

Saya juga ingin mengomentari artikel di Parents Guide tahun 2005 yl dan beberapa pakar lain sbb:

1. Yang diperkaya lingkungannya adalah janin dalam kandungan bukan ibunya- jadi yang mendengarkan musik Mozart adalah janin dalam kandungan. Headset harus ditempel ke perut ibu bukan telinga ibunya. Mohon dibaca 5 M dan 1 U @

Penelitian di luar negeri yang disebutkan dilakukan pada orang dewasa bukan pada tikus atau manusia yang otaknya sedang tumbuh. Memang pengetahuan mengenai otak-organ manusia/ jagat raya paling rumit, masih terus berkembang, jadi mohon jangan kesusu mengklaim salah dan benar. Tetap terbuka terhadap temuan baru, dan kalo bisa “seimbang”- biasanya kalau penelitian orang bule langsung diapresiasi sedangkan penelitian lokal diabaikan.

Bayangkan saat dalam kandungan sel otak janin mengalami proliferasi (bertambah banyak), migrasi (berpindah ke tempat berfungsi – ditepi otak= korteks), diferensiasi (berubah sesuai fungsi), sedikit mielinisasi(penyelubungan), sedikit sinaptogenesis(percabangan yang sangat penting) dan apoptosis(kematian sel terprogram). Dan sudah jelas bahwa otak membutuhkan stimulasi- utamanya sensorik – auditorik untuk tumbuh dan berkembang di samping nutrisi. Bila diberi paparan, tentunya hasilnya akan berbeda dengan paparan simulasi dan nutrisi terhadap otak dewasa.

3. Mendengarkan musik klasik jangan seperti orang bule- yang menurut Don Campbell – pengarang Efek Mozart, salah. Mendengarkan musik klasik seperti sebuah perjalanan, do re mi nya sama tapi kalo posisi di intro dan cauda akan memberikan dampak yang berbeda. Mendengarkan musik klasik mestinya tanpa tepuk tangan tetapi seperti latihan tenaga dalam atau meditasi. Mozart mengarang 626 komposisi yang tercatat dan diberi nomer K 1 – 626, yang memenuhi kriteria: sederhana, nada mayor, ketukan 60 – 80 x/ menit, frekuensi 3000-8000 Hz dan analisis frekuensi, histogram, . Misalnya lagu K626 yang dikenal sebagai Requim, mhon jangan diputar untuk janin dalam kandungan- ini lagu kematian. Dari kriteria di atas ada 11 – 14 lagu yang saat ini ijin produksinya sedang saya urus – ternyata tidak mudah. Dan kami dapatkan juga kalau orkestranya berbeda hasilnya akan berbeda. Jadi kalau mau mendapatkan urutannya, CD atau kasetnya, mohon lewat kami – dan dalam format penelitian.

Saat ini kami sedang melanjutkan penelitian kami pada tahap 4 (manusia- klinis) dan nantinya akan diproduksi secara masal. Penelitian ini untuk menganalisis dampak kombinasi stimulasi Mozart dan Nutrisi terhadap “General Movement” bayi baru lahir sampai minimal 6 bulan. General movement menurut dr Achmad S Sp A lebih baik dalam mengevaluasi tumbuh kembang bayi – anak. Saya beruntung ketemu partner dr Achmad Suryawan Sp A – salah satu pakar general movement Asia – dunia. Format penelitian juga akan diperbaiki – sesuai usulan tim HTA RS dr Soetomo terutama Dr Anang dr Sp A , dengan randomisasi , double blinded dan menghitung N3T nya.

Upaya ini mudah-mudahan bisa menghasilkan generasi Indonesia yang lebih cerdas dan sehat

Mohon doa restu

Senin, 07 September 2009

The Influence of 11 Mozart Compositions during Pregnancy to the Perinatal Outcome and BDNF Umbilical Cord Blood

Niken WS, Hermanto T.J, Dikman A,, Margarita M

MFM division, Dept. Obgyn, SOM Unair - dr Soetomo GH Surabaya

Presented at ISOG Congress XIV Surabaya August 2009

-

ABSTRACT

Objective: Brain Derived Neurotrophic Factor(BDNF) is a protein that is abundant in brain and peripheral nerve, affect neuron development, growth and survival. The purpose of this study to compare the level of BDNF in newborn human umbilical cord blood between exposed and non exposed group to 11 Mozart compositions during pregnancy


Design and method: analytical and experimental study, randomized double blind controlled trial. Subjects: 30 low risk pregnancies in 32 weeks of gestational age, randomly divided into two groups. The intervention group was exposed to 11 Mozart compositions by headphone abdominally for 1 hour at 8 – 9 pm every day until delivery. Perinatal outcome and BD
NF assessed in the two groups. The level of BDNF newborn umbilical cord blood was measured by ELISA menthod


Result: There were no differences in
birthweight, head circumference, Apgar score, IUGR, IUFD, need for resuscitation and admission to NICU between the two groups There were significant different in the levels of newborn cord blood BDNF between exposed and non exposed groups(12.221,33 pg versus 8577,60 pg, p;0.02)


Conclusion: There were no significant differe
nces in the perinatal outcome. BDNF level of neonatal umbilical cord blood were significantly higher in exposed group compared to non exposed group.


Keyword: BDNF, perinatal outcome, 11 Mozart compositions, pregnancy

Effect of Maternal Docosahexaenoic Acid Supplementation on the Perinatal Outcome and Brain Derived Neurotrophic Factor in Newborn Umbilical Cord Blood

Elli SM Gultom*, Hermanto T.J*, Margarita Maramis**

*Department of Obstetrics and Gynecology, **Department of Psychiatry, Airlangga University School of Medicine, Surabaya

Presented at ISOG Congress XIV Surabaya August 2009

ABSTRACT

Objective : Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) is a protein that is abundant in brain and peripheral nerve. It affects neuron development, growth and survival. The purpose of this study is to compare the level of BDNF in human umbilical cord blood from newborns between intervention and non intervention group to the Docosahexaenoic acid (DHA) during pregnancy.

Design and Method : Analytical and experimental study, randomized controlled, double blind controlled trial. The sample: low risk pregnancy in 32 weeks of gestational age, that were randomly divided into two groups. The intervention group consumed soft gel capsule DHA/EPA 214/20 mg once daily until delivery. In both groups, stressor rating scale and eating pattern were analyzed. After delivery the perinatal outcome were analyzed. The levels of BDNF newborn umbilical cord blood were measured by ELISA method.

Result : There were no differences in birthweight, head circumference, Apgar score, IUGR, IUFD, need for resuscitation and admission to NICU between the two groups. Statistically, the level of BDNF in newborns umbilical cord blood of non intervention group was not significantly different from intervention group (10259.87±3875.392: 9430.73±2910.077, p:0.513).

Conclusion : The Level of BDNF newborns umbilical cord blood were not significant differences between Intervention group and non Intervention group. The duration and dosage of the DHA should be adjusted to the International guidelines

Keywords : Pregnant women, DHA, BDNF.